Merokok, Ejakulasi Dini, dan Gangguan Ereksi.
Angka gangguan kesehatan dan kematian yang disebabkan oleh merokok
termasuk tinggi jumlahnya di seluruh dunia. Di Inggris kebiasaan merokok
ini merupakan salah satu pembunuh paling besar dengan tingkat 5 kali
lebih besar dari kematian kumulatif yang disebabkan oleh kecelakaan lalu
lintas di jalan, kecelakaan lain yang menyebabkan kematian, overdosis
dan keracunan, kematian yang disebabkan oleh kerusakan hati karena
alkohol, pembunuhan baik yang terencana maupun yang tidak, bunuh diri
dan kematian oleh infeksi HIV. Di negeri kerajaan ini, 1 dari 4 orang
yang disurvei mengaku merokok secara aktif. Sebenarnya ada cara agar berhenti merokok dengan cepat, tapi ini akan saya bahas lain waktu.
Laporan lain menunjukkan bahwa angka kejadian erectile dysfunction atau
yang dikenal dengan impotensi meningkat secara tajam pada perokok yang
mengisap lebih dari 10 batang sehari. Jumlah ini meningkat lebih dari 50
persen apabila kebiasaan tersebut juga disertai dengan penyakit
degeneratif lain yang menjadi faktor risiko seperti diabetes,
hiperkolesterol dan tekanan darah tinggi.
Seorang epidemiologist dari Johns Hopkins University, Baltimore-AS dalam
sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Medicine
mengemukakan data estimasi bahwa 18,4 persen dari pria Amerika yang
berusia di atas 20 tahun menderita disfungsi ereksi dan kondisi tersebut
berkaitan erat dengan kebiasaan merokok, kurang berolahraga, dan
konsumsi makanan yang buruk. Juga terdapat pergeseran umur pada mereka
yang menderita inpotensi ini dimana usia rata-rata menjadi lebih muda.
Dalam laporan ini, 5,1 persen ditemukan populasi yang berumur 20-39
tahun, sementara 14,8 persen berusia 40-59 tahun. Bandingkan dengan
mereka yang menderita ejakulasi dini yang dilaporkan lebih dari 60
persen dari seluruh populasi yang diamati.
Fakta lain menunjukkan, setengah dari jumlah pria ini ternyata menderita
diabetes dan hampir 90 persen mempunyai faktor-faktor risiko
kardiovaskuler lainnya seperti tekanan darah tinggi, profil lemak darah
yang buruk, serta dua kali lebih berisiko pada mereka yang memiki
kebiasaan merokok.
Thomas G. Travisona dan kawan-kawan dari Department of Urology, Columbia
University, New York dan New England Research Institutes Watertown,
Massachusetts mempertegas sebuah studi bahwa penderita impotensi dapat
mengalami remisi alamiah hanya dengan memperbaiki gaya hidup sehat
khususnya menghentikan kebiasaan merokok.
Semua laporan di atas dapat disimpulkan bahwa merokok aktif secara
bermakna memiliki hubungan kausalitas dengan terjadinya impotensi dan
ejakulasi dini. Banyak sentra pendidikan yang menulis tentang kesulitan
mengikis kebiasaan merokok ini karena nikotin memiliki efek adiksi yang
bekerja hampir sama seperti heroin atau kokain.
Lalu bagaimana dengan Indonesia yang banyak sekali memproduksi berbagai
macam rokok? Setelah banyak orang yang mengetahui betapa bahayanya
merokok dan akibat merokok, produsen rokok malah semakin berlomba-lomba
memasarkan produk rokoknya, sehingga rakyat pun semakin merasa ketagihan
bahkan siswa-siswa SD dan SMP yang notabene berusia belia sudah
ketagihan dengan rokok. Bukankah ini menjadi buah simalakama bagi
negara? karena di satu pihak produksi rokok sangat membahayakan
kesehatan generasi bangsa, tapi di pihak lain produksi rokok
mendatangkan devisa negara yang tidak sedikit. Butuh kerjasama semua
pihak untuk bisa menegaskan pentingnya menghilangkan kebiasaan merokok
dan menjadikan bangsa Indonesia sehat jasmani dan rohani.
- bahaya rokok - kandungan dalam rokok - juga akan saya bahas lain waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar